Minggu, 09 Maret 2008
JANGAN MAU JADI ORANG PINTAR, (bukan sebuah anjuran.)
Ketika masih berumur anak-anak, saia ditanya oleh orang-orang dewasa disekitar lingkungan saia “Besok gede mau jadi apa?” dan tentu saja dengan penuh semangat, optimisme dan khayalan tingkat tinggi saia menjawab “Jadi orang pintar biar bisa buat emak senang.” , dan jawaban-jawaban seperti itu masih sering kita dengar –karena kita juga tahu bahwa itu merupakan cita-cita yang mulia-. Akan tetapi setelah saia beranjak dewasa, dan melihat beberapa fenomena “tragis” dari orang-orang pintar yang terekspose –meski teramat sangat sedikit- saia seakan-akan ingin mengulang masa kecil saia, memutar waktu dan apabila ada yang bertanya soal cita-cita, saia akan merubah jawaban saia menjadi “Saia ingin menjadi Orang yang Goblok tapi punya bakat untuk Minteri.”, sebuah cita-cita yang lumayan “realistis” meski tidak semulia cita-cita saia yang pertama. Tapi yang pasti akan tetap membuat emak senang .
Menjadi orang pintar tidak hanya akan membuat kita tertekan – baik spirituil maupun materiil – tahap menjadi orang pintar pun akan terasa berat (baca: susah ngokosi) untuk ukuran orang Indonesia saat ini, bagaimana tidak? untuk sebuah ijazah SD yang notabene “tidak laku” lagi mengantar kita menjadi “orang” (karena minimal SMP itupun ga ada jaminan, Cuma sekedar lebih “fasih” baca tulisnya) kita harus lebih banyak berkutat dengan pendidikan yang terbisniskan daripada mengeyam pendidikan yang bener-benar bisa mendidik kita menjadi orang pintar. Berkutat dengan buku-buku baru –kebanyakan covernya saja, isi relatif sama- dengan harga yang baru –cenderung lebih mahal- juga. Itu untuk setingkat SD, bagaimana dengan SMP, SMU, atau PT?. tidak usah ditebak! Karena kita sendiri sudah tau betapa pendidikan di komersiilkan, pendidikan menjadi sebuah ladang bisnis yang menggiurkan, ladang basah bagi sebuah kepentingan materiil sedikit golongan.
Jadi, saia rasa sangat tepat cita-cita kedua saia tadi “Menjadi orang Goblok tapi punya bakat untuk Minteri”. Mengapa? Pertama tujuan awal saia untuk menyenangkan emak saia sudah terwujud dengan tidak terlalu NGEREPOTI emak saia dengan bisnis tingkat tinggi yang terjadi di sekolahan. Kedua apalah gunanya jadi orang pinter? Contoh riilnya: Seorang profesor yang sudah berdinas sekitar 40 tahun, dihitung sejak pertama kali mengajar di perguruan tinggi, menerima gaji kurang lebih Rp 2,7 juta per bulan, atau lebih sedikit tergantung kepada ukuran keluarga yang masih berada di bawah tanggungannya. Sekiranya sang profesor masih punya tanggungan anak yang kuliah satu atau dua orang, Anda bisa membayangkan betapa sulit baginya untuk mengatur bujet rumah tangga. Atau, bahkan tanpa berutang, dapur bisa berhenti berasap, karena pendapatan setiap bulan benar-benar berada dalam sistem ''menghina''.
Bandingkan dengan seorang anggota DPRD di daerah yang punya PAD (Penghasilan Asli Daerah) tinggi, yang menerima gaji sekitar Rp 40 juta per bulan. Tidak peduli apakah anggota ini punya ijazah asli atau palsu yang belum ketahuan, pendapatannya sama.
Untuk menandingi perdapatan per bulan anggota DPRD yang “terhormat” ini, seorang profesor harus bekerja sekitar 15 bulan, baru imbang. Inilah panorama kesenjangan yang amat buruk yang berlaku sampai sekarang. Jangankan dengan wakil rakyat dengan PAD tinggi, di daerah minus sekalipun, dengan pendapatan sekitar Rp 5 juta per bulan, seorang profesor botak tidak bisa menandingi.
Memang, ada sejumlah kecil profesor atau doktor yang punya penghasilan tambahan yang cukup tinggi sebagai konsultan, dosen di luar negeri, merangkap jadi anggota DPR, komisaris atau penasihat bank, ikut proyek, atau mengajar di beberapa tempat, dan lain-lain. Tetapi, standar gaji mereka, ya seperti tersebut di atas itu. SUSAH DEH JADI ORANG PINTAR.
Kongkritkan? Riil dan sangat ILMIAH –kalau boleh minjam istilah teman-teman di Republik BBM- jadi skali lagi tidak ada gunanya jadi orang pintar, Goblok pun kita bisa makan, bisa menghidupi istri, bisa buat anak dan sebaginya. Bahkan bila boleh kita juga bisa menjadi orang yang kaya tanpa harus menjadi pintar tentu. Asalkan kita punya bakat untuk MINTERI, punya bakat SOK PINTAR, dan tetap berupaya menjadi PALING PINTAR dari orang-orang goblok golongan kita.
Pernah seorang teman berkata pada saia “Ga isin ta, pean ngomong ngono?” (ga malu kamu ngomong kaya’ gitu?) dan saia jawab bahwa sudah tidak relevan lagi kata malu diungkapkan di Negara republik tercinta INDONESIA karena memang seperti itulah Negara kita, sebuah Negara tanpa “KEMALUAN” tanpa etika sopan santun tutur tindak tanduk dan tanpa ada penghargaan dan pemgayoman akan sebuah pemikiran OTAK dan ETIKA.
Jadi bila sampeyan masih merasa kalau PINTAR itu penting, pintar itu perlu dan pintar itu dibutuhkan marilah bersama saia yang masi goblok ini – tapi tetap peduli dengan nasib bangsa – bersama-sama menjadi salah satu putra terbaik bangsa Indonesia tercinta –bedanya anda pinter dan saia goblok- membangun INDONESIA dengan dasar pemikiran yang berbeda dan satu tujuan INDONESIA punya rasa malu –lagi- serta TIDAKlebih DIPERMALUKAN oleh dunia.
Selasa, 04 Maret 2008
Cerita Pendek hari ini.,
Ehm.., mungkin sekarang kamu sedang membacanya bersama sedikit otakmu yang tersisa dari beban tugas akhir yang belum terpecahkan algoritmanya untuk rumus dengan symbol-simbol aneh nan unik, Ehem.., tapi keunikannya pun tak pernah membantu sedikitpun untuk sekedar kamu menertawakannya, atao sedikit senyumpun tak pernah kamu haturkan untuk symbol aneh itu yang pastinya akan mengantarkanmu menuju gelar dan masa depan kamu, kelak.
Panas masih begitu terik dan menyengat untuk ukuran mendung dimusin hujan, pengap pun terasa semakin menyiksa menyisakan titik-titik keringat yang tidak kunjung henti, entah berapa kali gumanan bernada umpatan sengaja ataupun tidak mengalir pelan seiring detik jam yang berjalan lambat didinding abu-abu fakultas.
Birokrasi aneh di sebuah lingkungan akademik baru gedhe tapi isinya sudah sok laiknya tak ada cacat dan paling sempurna, sebuah birokrasi mbulet turunan nenek moyang yang tetep saja dilakukan oleh manusia-manusia yang sengaja atau tidak telah mendewakan computer tapi tetap saja berotak bebal dan sok perfect. Maafkan mereka ibu pertiwi, maafkan kami juga yang akhirnya hanya bisa pasrah oleh taring mereka.
Mungkin kali ini dan seterusnya kamu bakal tertawa atau setidaknya masih ada harapan untuk sekedar kamu tersenyum. Sebuah harapan yang tulus dari hati yang begitu sering lupa akan karunia tuhan, begitu sering alpha untuk sekedar bersyukur pada kemurahanNYA.
Wiuh…, panas hari ini masih menyengat dan karena birokrasi aneh itu pun akhirnya membuat kamu, aku, kita, dia dan mereka menunggu dengan sedikit amarah, sedikit sebal, tapi masih ada sedikit keceriaan. Manis. Tawa yang begitu riang, begitu lepas meskipun kita semua tahu betapa memuakkan birokrasi nenek moyang ini, dan kita juga ngerti kita tidak akan lepas dari birokrasi memuakkan itu sebelum kita benar-benar terlepas dari fakultas ini, tapi setidaknya masih ada tawa diantara kita sebuah keceriaan yang mungkin akan begitu sulit untuk kita lupakan, begitu sulit untuk kita lepas dari kenangan terindah kita.
Dan cerita belum usai, penderitaan belum tuntas untuk hari ini panas pun masih dengan setianya memberi pencerahan pada manusia untuk sekedar berfikir akan kebesaran tuhan. Emhh…, ditengah terik ketika ban bocor dan perut keroncongan kamu berceloteh menutupi kelelahan yang tersirat di wajah kamu, kadang tertawa, kadang tersenyum. Setidaknya panas hari ini pun punya masih terkalahkan dengan keceriaan kamu meskipun, kamu capek dan sedikit tersiksa hari ini. Sorry…
Selasa, 04.04.08
JANGAN KEJAR AKU, MATAHARI.
Malam belum begitu larut dengan beberapa bintang yang masih sedikit menggelayut diantara mendung musim hujan yang tidak bisa diramalkan lagi, separuh bulan yang masih enggan untuk sedikit saja bercahaya pada bumi berselimut awan hitam, mendung. Beberapa lampu mercury 100 watt diperempatan-perempatan bersaing dengan temaram lampu sepeda motor dan mobil yang berebut menghembuskan nafas polusi untuk bumi, kerlip bintang semakin temaram. Anginpun seakan tidak mau tinggal diam, berhembus sepoi-sepoi tetapi begitu menusuk tulang, beberapa lembar daun terjatuh dengan ringkihnya, tapi tak patah dan terinjak roda mobil yang melaju tanpa sopan, berantakan.
Musim penghujan yang biasanya begitu ramai dengan celoteh kodok, sekarang pun jadi sepi bukan karena si kodok telah musnah oleh ular sawah, akan tetapi tak ada tempat lagi untuk kodok mengorek dimusim hujan berganti bangunan-bangunan kokoh yang akan roboh oleh sebuah getaran kecil rutukan tanah, atau setetes hujan yang sedikit berlimpah. Ringkih, rapuh, luluh. Wujud alotnya birokrasi Negara ini.
Di sudut kota, beberapa ratus meter dari kediaman pejabat yang ga pernah kelihatan ngantor, tapi selalu pake mobil dinas berpakain klimis tapi ga pernah ngasih sedekah kalo ada yang ngemis, disebuah warung sebelah wak Kaji yang memiliki satu pondok yang sedang dalam proses dikembangkan dan sudah beberapa kali naik haji, umrah dan sebagainya tapi sadar atao enggak ternyata disekitar wak Kaji masih banyak orang yang belum berkecupan disekitarnya.
“Warung Kopi Lincak”, seperti itulah yang terpampang di depan warung kopi Kang Prawito, sebenarnya se ga bener juga kalo dibilang warung soalnya warung Kang Prawito atau biasa anak-anak panggil Kang Wit hanya terdiri dari sebuah gerobak mirip dengan gerobak yang biasanya dipake jualan bakso, beberapa lincak yang mengitari gerobak Kang Wit serta sekitar sepuluh tikar tanggung yang disiapkan Kang Wit jika pengunjung warungnya udah ga mencukupi ditampung di lincak sekitar gerobaknya, tinggal gelar tikar dibeberapa emper toko yang sudah tutup dan jadilah sebuah warung atau anggapan kami ini merupakan restoran mewah yang ga ada duanya, bisa berbincang bebas dengan kawan, tertawa pun tidak perlu takut menjdi perhatian orang, bahkan kami pun sudah mengganggap warung ini tempat bertemunya kawan baru maupun lama, hemm.., sebegitu mewahnya fasilitas warung ini meskipun menu yang disediakan harga satuannya tidak ada yang menembus angka dua ribu perak, beratap langit dan beralaskan tikar yang beberapa bagiannya udah bolong dimakan usia dan sulutan rokok.
Satu cangkir kopi dengan hidangan beberapa pisang goreng dan
Yah, apa lagi yang harus dilakukan untuk membunuh malam yang begitu pekat dengan mendung yang kapan saja siap menurunkan airnya dengan deras, sedang atau pun cumin gerimis karena semua bisa menjadi kemungkinan buruk, atau bahkan terburuk. Pak pejabat yang ga pernah ngantor sering bilang di pidato-pidatonya waktu pertemuan PKK maupun arisan rutin ibu-ibu bahkan di senam bersama bapak-ibu pejabat dibawahnya bahwa kita harus menjaga alam, menjaga bumi dan sebagainya tapi pak pejabat yang tidak pernah ngantor tidak pernah memberi contoh, hanya memerintah, hanya omong doang.
Atau Wak Kaji yang sering dalam ceramah-ceramahnya selalu memberikan nasehat untuk terus bekerja, berusaha, dan berbuat baik dan sebagainya dan sebagainya tapi Wak Kaji juga tidak pernah memberi tauladan, yang ada wak kaji cuman sibuk dengan urusan politik, pilkadal, sampe pilihan RT atau begitu sibuknya Wak Kaji saling tuding sesat menyesatkan tanpa harus berusaha mawas diri, instropeksi tentang apa dan mengapa semua bisa tersesat? Mengutip dari novel laris yang saat ini sedang booming, Pak Kaji sekarang lebih sibuk dan lebih gengsian, kiai di Indonesia yang menyuruh umat mengeluarkan shadaqah jariyah, bahkan menyuruh santrinya berkeliling daerah mencari sumbangan dana dengan berbagai macam cara termasuk menjual kalender, tapi dia sendiri cuma ongkang-ongkang kaki di masjid atau di pesantren. Ketika seseorang telah disebut ‘kiai’ dia lalu merasa malu untuk turun ke kali mengangkat batu. Meskipun batu itu untuk membangun masjid atau pesantrennya sendiri. Dia merasa hal itu tugas orang-orang awam dan para santri. Tugasnya adalah mengaji. Baginya, kemampuan membaca kitab kuning di atas segalanya. Dengan membacakan kitab kuning ia merasa sudah memberikan segalanya kepada umat. Bahkan merasa telah menyumbangkan yang terbaik. Dengan khutbah Jum’at di masjid ia merasa telah paling berjasa. Meskipun khutbahnya dari dulu ya cuman itu-itu saja.
Tapi ya sudah lah, yang penting masih bisa nikmati hidup meskipun hanya dengan secangkir kopi dan beberapa pisang goreng, rasa lelah setelah mencangkul seharian di ladang Kang Sukro petani gabah yang hanya punya sawah satu kotak tapi setengahnya di sedekahkan pada beberapa warga miskin yang tidak punya pekerjaan dan keahlian lain selain tani seperti Aku, dengan sistem gantian dengan 4 tetangga lainnya lumayan lah yang sebelumnya tidak punya penghasilan jadi sedikit punya pengharapan untuk makan.
“Kang udah waktunya tutup” kata Kang Wit halus sambil meletakkan lincak diatas dan disamping gerobaknya.
“Oh iya kang, ini” kataku sambil mengeluarkan dua lembar seribuan dan satu koin
“Terima kasih Kang Wit, besuk lha yo sik bukak to?”kataku lagi.
“Iya no kang, tenang ae selama saya masih kuat ndorong gerobak apa se yang nggak buat sampean-sampean?” kata Kang Wit lagi diikuti tawa kami bersama, hemmh…, malam ini pun ditutup dengan tawa. Senangnya.
Beberapa pedagang sayur sudah mulai melewati kami menuju pasar, menyongsong esok yang baru, yang lebih baik. Yup, semogabesok matahari masih bersinar, dan aku pun harus istirahat untuk bersiap mencangkul lagi, esok. Matahari, jangan kejar kami. Biarkan hidup ini lebih berarti dengan mu yang slalu sinari kami… semoga tidak mendung dan matahari masih terlihat.
Tanya Kenapa?
Matahari makin meninggi seiring hilangnya kepulan kopi dari cangkir lusuh hadiah berlangganan kopi sebulan di warung sebelah, empat tahun silam. Beberapa mahasiswa nyentrik sudah berlalu lalang dengan sibuknya. Menenteng ransel gedhe yang kelihatan melompong, beberapa map berisi lembaran-lembaran rapi kertas folio dan tak sedikit yang terlihat sambil menempelkan HP dikuping mereka entah telepon atau cumin mendengarkan Nada Sambung Pribadi, ga taulah tapi yang jelas mereka terlihat sibuk. Beberapa pegawai sipil berkemeja safari lengkap dengan sepatu necis dan dandanan klimis mulai sibuk berangkat kerja, ya meskipun mungkin agak telat masuk kantor tapi yang penting absen dan setelah itu ga da kerjaan pokonya ngantor. Asal gaji ga telat aja.
One love-nya uncle bob Marley masih mengalun dengan anggunnya menyayat hati dari rumah kost sebelah yang bercat merah, kuning, hijau. Dan aku masih menantap dunia yang udah begitu jarang ditemui cinta antar sesama, begitu jarang lagi manusia yang memanusiakan manusia. Fiuwh…, semua sibuk dengan dirinya masing-masing, semua sibuk dengan ego dan kebutuhannya sendiri-sendiri.
Lirih masih terdengar om bob bernyanyi, ehm…, tapi biarlah asal masih bersuara dan bernyanyi menemani aku, mengusir sepi meskipun begitu banyak manusia hilir mudik tak henti-hentinya didepanku.
Hari beranjak makin siang, makin panas, dan makin banyak saja mahasiswa yang sliweran didepanku. Beberapa terlihat memakai jas almamater, beberapa lagi membawa kertas-kertas yang digulung dengan tidak rapi, bunyi sepeda motor yang begitu keras seakan menampar-nampar kendang telingaku, lagu om bob pun semakin lirih terdengar.
Kusruput seteguk kopi yang sudah dingin dari cangkir kopi lusuh yang panas karena matahari. Riuh terdengar dari kejauhan yang rasanya semakin mendekat, terlihat motor begitu banyaknya dengan suara meraung seakan ingin memperlihatkan pada semua bahwa “ne lo aku punya motor!”, beberapa warga disekitarku berhamburan keluar rumah seakan-akan ingin melihat tontonan parade pawai pembangunan yang biasanya hanya ada setiap 17 agustusan. Sebuah spanduk panjang bertuliskan aneh menghujat pemerintahan yang berkuasa dan seakan-akan membela rakyat kecil, satu oaring dengan ikat kepala mirip perban rumah sakit bertuliskan HIDUP RAKYAT, berkoar-koar dengan megaphone yang kadang lancer kadang tersendat dan kadang bersuara ga jelas, yang lain pun bernyanyi-nyanyi lagu revolusi dengan mengepalkan tangan kirinya meskipun kadang diselingi tawa, beberapa lagi membawa kertas-kertas protes bertuliskan hujatan dan makian yang diatas namakan rakyat kecil. Sebuah parade yang menarik.
Suara knalpot motor yang meraung begitu kerasnya disertai teriakan dan hukatan menambah rebut pawai dadakan. Dan dengan acuhnya bahkan tak ada perasaan bersalah untuk sekedar berjalan sambil meraung-raungkan suara knalpotnya tanpa sopan didepanku atau setidaknya memandang orang lain yang sama-sama bayar pajak yang sedang melewati jalan dari arah berlawanan pun terpaksa terpinggirkan di trotoar dan berhenti untuk memberi jalan pawai atas nama rakyat kecil, atas nama mereka.
Debu berterbangan tanpa sopan dan suara knalpot serta koar-koar pemimpin pawai masih terdengar, aku terbatuk dan mengaduh sesak. Ehm.., untunglah kopiku sudah kututupi dengan topi jeramiku. Selamat.
“Somewhere Over The Rainbow” nya Israel Kamakawiwo’ole mengalun lirih dari rumah sebelah, meneduhkan hati. Seseorang dengan rambut gimbal aneh tak teratur dan berpakaian lusuh yang sudah termakan usia atau mungkin tidak pernah dicuci atau malah karena sering dicuci dengan sablon Osama bi Laden, bercelana jeans yang tidak kalah lusuh dan dekilnya dengan kaos yang dipakai beberapa bagian sudah terkoyak atau mungkin emang sengaja dikoyak keluar dari rumah sebelah sambil membawa mangkuk dan gelas berisi kopi berjalan ke arahku. Suara sandal jepit yang tidak pernah bisa dibilang bagus dan bermerk semakin dekat.
“Maaf ya pak, masaknya kesiangan. Soalnya semalem anak-anak harus begadang ampe pagi, semalem warungnya rame pak. ” kata Sofyan Amirruddin, manusia gimbal aneh yang kadang sering terlihat teller sama teman-teman gimbal serumahnya meskipun juga tidak jarang terlihat mengumpulkan sumbangan dijalan-jalan ketika ada bencana dibeberapa tempat.
“alhamdulillah. Iya ga pa-pa, kok ga ikut demo lho, Mir?” tanyaku sambil menerima mangkuk yang berisi nasi dengan beberapa
“Ga pak., beda aliran. Kita
“Ya udah pak, ntar kalo bapak lapar ato sekedar buat istirahat masuk aja ga usah sungkan.” Kata amir sambil beranjak dari sampingku.
“Iya, mir terima kasih. Terima kasih juga buat yang lainnya.” Kataku dibalas senyuman dari amir, tulus.
Aku beringsut kebelakang, dengan tangan yang makin keriput oleh usia berlindung dari sengat matahari dengan atap Kardus yang menempel dipagar sisa rumahku, rumahku sudah hancur oleh amuk warga karena dikira tukang santet beberapa tahun lalu padahal aku cumin bisa sedikit meramal, tidak ada sanak keluarga yang mau aku tumpangi tinggal meskipun kakiku pernah terputus oleh mortir jepang saat perang kemerdekaan, tapi tak ada yang penghargaan apapun untuk sebuah perjuangan demi kemerdekaan bangsa, meskipun aku juga tak berharap banyak. Sampai empat tahun yang lalu, rumah kardusku bertetangga dengan beberapa mahasiswa aneh berambut gimbal, suka teller dan kemudian menbuka warung kopi yang buka dari jam 9 malam ampe pagi . Setelah beberapa minggu tinggal bertetangga aku tau mereka ga se-aneh tampilannya meski suka teller tapi mereka ga pernah malakin orang. Bahkan mereka sering ngajak aku tidur di rumah kost mereka, meskipun jarang-jarang aku tidur di rumah mereka hanya saat hujan deras dan rumah kardusku ga sanggup menampung air hujan. Kami sering cerita masing-masing diri kami, mereka terkejut ketika tahu aku mantan pejuang dan lebih terkejutnya lagi aku adalah mereka kuliah dengan biaya sendiri, dari warung kopi mereka.
Dan untuk sekian kalinya, aku makan dari makanan mereka..,
Aku menarik napas dalam-dalam sambil meraih kotak bekas biscuit tua yang tadi ada dihadapanku, beberapa koin limaratusan pemberian beberapa dermawan dan setumpuk debu dari pawai atas nama orang kecil…, hari masih panjang, semoga tidak mendung dan turun hujan biar rejekiku hari ini bertambah dan aku tidak dipaksa amir dan kawan-kawannya untuk tidur dirumahnya karena hujan…
Ternyata kita ngutang [bukan BH] dari kandungan…?
Sebuah berita yang pastinya bakal mengejutkan siapa saja yang belum tahu (ehm.. ya iya lah!) atau hanya membuat orang mengeryitkan dahi sambil berguman “lha wong ini
Ternyata eh ternyata,
And yang paling ngejutin lagi,.. utang itu baru dilunasin tahun 2003 kemarin. Utang ini berasal dari utang om-om walanda (baca : orang belanda yang udah ngeruk hasil berlimpah dari rahim ibu pertiwi selama 350 tahun) besarnya se kalo ga salah inget sekitar $40juta (detailnya baca jawa pos aja 2 minggu lalu. Tanggalnya lupa, he he) yang dengan begitu santainya membebankan utang (bukan kutang=beha) ama bangsa kita ini. Jadi secara nggak langsung kita ini baru MERDEKA dari om-om belanda ya taon 2003 itu.
Jadi sebenarnya kita itu kaya dalam bidang apa se? bahkan ne denger-denger berita radio cawang kotak milik bapak, baca-baca dikit dari artikel dikoran-koran bekas bungkus kacang and liat-liat berita tipi disela-sela program sinetron cengeng dan adegan mesum yang disensor setengahnya bahwa bayi yang baru nongolin kepalanya di bumi
Trus ne salah sapa? Tauk lah ne salah sapa, ga usah nuding presiden soekarno, soalnya dia memerintah ne bangsa, ne bangsa juga udah punya utang, trus nyalahin mbah harto, ya ga perlu lah soalnya dia mewarisi pemerintahan om soekarno ne bangsa juga punya utang, bahkan inflansi ampe 650% (Tani Merdeka edisi februari.), ato Mr. habbibie? Ga juga, mbah gus dur? Jangan lah! Ibu megakarti, eh megawati?(jujur ne, saia mah lebih setuju ibu megakarti yang jadi presiden, lucu bo’ he he), ato kang mas SBY? Ya janganlah! Karena kita harusnya menyalahkan mereka semua, whe he he… menyalahkan diri kita sendiri, kenapa kita bisa begitu mudah dibodohi dan dikadali seperti ini.
Da point is; isn’t da time buat nyalah-nyalahin orang lain, merasa jadi paling bener and paling pinter, tapi sudah waktunya kita bisa menilai kekurangan diri kita sendiri, berusaha lebih baik untuk memperbaiki keadaan yang ga baik-baik ne,… ok brada let’s do it, or die aja dah! Ganyang
Jumat, 29 Februari 2008
da Dan.cOek's
Sejenak aku berharap akan keadilan
Keputusasaan akan rasa aman,
Adil, dan nyaman …
Di negri sendiri
Diatas bangkai aku berjalan
Mengitari seperempat negri yang haus akan darah
Darah darah pebangsat yang terus menebarkan bau-bau bangkai
Diantara telapak kaki penuh nanah.
Aku rindu akan semerbak kemboja, melati, atau kembang tujuh rupa?
Yang tergunting kejamnya materi penuh ambisi.
Terkapar diantara relung religi yang DIPERTANYAKAN?
Diterkam kungkungan moral yang diPERDEBATKAN
Di kukus oleh rasa Munafik yang SOMBONG .
Aku rindu akan sentuhan panas birahi kotaku yang Sejuk
Terkotori oleh limbah komersialisme hambar dari neraka birokrat
Tercabik oleh cakar-cakar tender kaum picik materiil
Terkotori mulut-mulut sampah tersumpal nanah
Terbias dengan debat akan Kebobrokan kemaluan yang tak ka n pernah padam
Terkapar dengan luka sayatan lidah dupa pentung usir lalat ijo yang wangi.
Aku bosan akan ijo royo-royo yang takpernah kunikmati
Aku bosan akan negriku yang adil tapi tak pernah kurasakan
Aku muak dengan religi yang arif penuh kemunafikan
Aku bosan semerbak wangi kemboja yang dulu pernah hidup diantara kaum MATI.
Negriku terbelah,
Oleh haram jadah mancuk mowo jaran
Terpukul pahitnya rasa indah mowo ijo royo-royo
Terpanggang oleh getir manis gemah ripah loh jinawi
Terjajah oleh negri sendiri.
KENAPA ada ORANG GILA.?(curhat,kegilaan akan manusia gila)

trus.. apa neh maksudnya ada orang gila? bukan maksud kita buat nyamain kamu, kalian, anda, sampean, yu, ato sapalah nama anda dengan orang gila, da da maksud sama sekali.. dikit lah boleh! he he .,, tapi yang jelas pasti adalah kenapa orang gila juga idup di dunia, kenapa orang gila juga di berkati ama TUHAN untuk sekedar jalan-jalan didunia, and kenapa juga orang gila diperbolehkan dengan suka rela (kadang sedikit dipaksa juga) buat bertelanjang dada, setengah dada, sebawah dada, maupun full sedada-dadanya tanpa ada komplain maupun hujatan yang baiasanya di tujukan buat orang normal (bisa disebut paranormal ga? up tu yu, terserah sampean).
menurut saia, saia adalah saia yang kadang juga dibilang gila sama temen-temen saia tapi bedanya saia jarang-jarang bertelanjang dada sedada-dadanya dikhalayak ramai meskipun dalam beberapa hal ada perbuatan orang gila yang saya perbuat juga (bangga dong!ga semua orang berani seperti orang gila.)
orang gila putus urat malunya, tapi tetep koq mereka punya kemaluan dalam banyak hal. jarang banget kita nemuin orang gila maling buat kebutuhan dia yang ada mah maling yang ngaku gila gara-gara kebutuhan dia. ato orang gila minta maksa orang normal buat buat hal-hal tertentu dengan tujuan pemenuhan kebut
uhan dia, ga kayak orang normal mereka minta, udah minta kalo ga dikasih maksa, ngancem lagi.. hell yeah...! ato sapa juga yang pernah denger, ato minimal bacalah ada orang gila korupsi punya orang gila lainnya? damn suck.... ga da kan? yang da mah orang normal yang korupsi duit rakyat yang milih dia trus ngaku sakit pas diperiksa, BEGO-nya ne orang normal kenapa dia kagak bilang SAKIT GILA? pastinya ga bakal di tangkep dia yang ada mah tu orang bakal jadi ICON orang GILA tersukses yang pernah berkorupsi.. n yang pasti TENARnya bakal ngalah-ngalahin AGNES monica kan... HORE!oke setalah orang gila punya kemaluan cukup besar daripada paranormal (baca: orang-orang normal), ne tanpa bantuan mak erot atapun mak siat ye.. tapi nyang jelas orang gila mah emang punya kemaluan besar. (dont think bad, kotor.) 1-0 buat orang gila. HIDUP ORANG GILA!
tapi begonya orang gila neh (ya iyalah GILA, gimana se?) dia ga bisa nutupin kemaluannya yang kadang malu-maluin, dan ini bisa ditutupin ma orang normal tengok aja agnes monica, coba kalo dia gila wuihhh MAUUUUUU....UUUU buangets.. he he.. 1-1 SERI boy.
SERIUS .,,
what da point?
kadang orang normal ga pernah syukur ma kenormalannya, and mencoba buat berpaling dari sisi normal manusia normal, apa se sebenarnya yang dicari ama manusia normal tu? SUKSES, oke kita udah didunia it's SUCCESS? one point.
what da next?
manusia normal mah seharusnya bisa berkaca, introspeksi and meniru orang gila, Lha KOK? ya iyalah., contonya ne, pernah liat orang gila makan di restoran mewah dengan sepiring bakso isi pentol 2 dengan daging sapi pasar tradisional, saos aand kecap serta sambel dari bahan yang sama dengan harga satu mangkok sama dengan harga satu bulan biaya hidup standart manusia normal lainnya yang kesuksesannya didunia lebih minim? ato dengan harga satu gelas air minum sama dengan jatah susu balita indonesia selama seminggu? never alias ga pernah, biasanya orang gila mah makan dengan apa adanya, ga jarang mereka makan dari tong sampah, sisa-sisa, and lain2nya, ga jarang juga mereka minum dari comberan tapi neh tapi....., jarang banget liat orang gila kena sakit perut, jarang liat orang gila kena serangan jantung, jarang juga orang gila kena stroke ato kanker payudara (padahal sering telanjang dada sedada-dadanya), bandingkan ma orang normal yang makan enak, minum enak tapi sering kena penyakit... ehm.... let's think!
trus ne, mana ada orang gila punya banyak duit? ga da kan? tapi mereka bisa hidup, mereka bisa menikmati hidup dengan cara mereka dan mereka juga ga pernah saling bertengkar dengan sesama orang gila hanya karena ego orang gila tu sendiri, yang ada mah orang normal yang neriakin orang gila "GILA..GILA..GILA.." trus ditimpuk ma batu,.. rasain!
matinya orang gila, ehm....
orang gila ada yang mati sahid ga ya? tapi yang jelas orang gila matinya selalu di rawat, matiny
a juga ga selalu jelek-jelek. pernah ne kejadian ada orang normal nabrak orang gila si orang gila mah baik-baik aja tapi tu orang kok malah luka parah bahkan ada yang ampe mati? kok bisa.. cuman tuhan yang tau. tapi yang kadang bikin kita heran lha kok yang dimarahin yang orang gila? emangnya sapa yang gila? lha wong udah tau orang gila kok ya ditabrak aja dimarahin lagi? dasar GILA., mbok ya ngalah... jangan mentingain ego sendiri.!INTINYA :
ga da salahnya kita NRIMO, nrimo bukan berarti ga berusaha nrimo dalam artian bahwa menerima segala sesuatu dari hasil usaha kita, make simple berusaha semampu kita. tuhan udah kasih kita banyak hal, tuhan udah kasih kita banyak kelebihan, and tuhan tu tau banget apa yang dibutuhin ma kita...TUHAN ga bakal nyia-nyiain ORANG GILA hanya sebagia pajangan dada sedada-dadanya buat orang normal tapi TUHAN memaknai orang gila sebagai contoh hidup untuk selalu berpasrah diri and bersyukur padaNYA...
thanks ORANG gila, THANKS banyak sebanyak banyaknya TUHAN..
tapi kira-kira ne, orang gila masuk neraka ato surga ye?.. kalo masuk sorga, kliatannya kelakuan gila saia selama ini bener de... he he...,
buat kalian..(manusia yang sekarang lagi norMAl).... JAngan pernah berharap buat jadie gILA, cz Orang GIla g pernahh berharap buwat jadie noRMAl. NIKMati aja de!